Sebuah dokumen yang dipahami sebagai pernyataan yang ditulis oleh Adolf Hitler soal penghapusan sistematis orang Yahudi dari masyarakat dipamerkan pertama kali pada publik di Los Angeles.
Surat empat halaman, diketik di atas kertas coklat pudar dan bantalan tanda tangan Hitler, sebelumnya secara terbatas ditunjukkan di depan umum di New York. Sejumlah kalangan menyebut surat ini sebagai artefak kunci dalam catatan sejarah Holocaust. Museum Toleransi pusat di Los Angeles dipilih menjadi lokasi pemajangan surat ini.
Pendiri Simon Wiesenthal Centre, Rabbi Marvin Hier, mengatakan itu adalah salah satu dokumen yang paling penting dari periode yang menunjukkan perkembangan pemikiran antisemit Hitler."Ini adalah item paling penting yang kita miliki dalam arsip lebih dari 50.000 benda," kata Hier, menambahkan bahwa hal itu akan digunakan untuk mendidik generasi masa depan dan untuk melawan penolakan Holocaust.
Beberapa ahli yakin keaslian dokumen itu. Surat ini kerap disebut 'surat Gemlich'. Salinan yang belum ditandatangani ada di arsip negara di Munich.
Hitler menulis surat di Munich pada tanggal 16 September 1919. Saat berusia 30, dia sudah mulai menunjukkan minat dalam politik. Sesaat sebelum menulis surat ia menghadiri pertemuan partai, yang kemudian ia mengambil alih dan diubah menjadi Partai Buruh Nasional Sosialis Jerman.
Pada saat itu ia berada di sebuah unit propaganda tentara Jerman yang mencoba untuk melawan pengaruh Bolshevik di antara tentara yang kembali dari front Rusia pada akhir perang dunia pertama. Komandannya, Kapten Karl Mayr, mengatakan Hitler untuk menanggapi pertanyaan dari Adolf Gemlich, yang ingin mengetahui posisi angkatan darat dalam penyikapan terhadap Yahudi.
Dalam jawabannya, Hitler menyemburkan cacian antisemit, di mana dia mengatakan orang-orang Yahudi "materialis murni dalam pikiran dan aspirasi" dan bahwa efek mereka adalah "menyebarkan tubercolusis rasial bagi bangsa."
Surat itu dibeli Simon Wiesenthal Centre seharga 150 ribu dolar AS dari seorang pedagang artefak sejarah. Surat itu diklaim sebelumnya dimiliki seorang tentara Amerika yang didapatkannya tahun 1945 dari sebuah arsip Nazi dekat Nuremberg.
Pusat ini memiliki kesempatan untuk membelinya pada tahun 1988 tapi ragu-ragu tentang asalnya, terutama kenyataan bahwa surat itu dibuat dengan mesin ketik - objek langka dan mahal pada tahun 1919. Hier mengatakan keraguan mereka telah diredakan ketika mereka menyadari bahwa Hitler bekerja untuk tentara dan akan memiliki akses ke mesin ketik.
INI CERITA SAYA
selamat datang di blog saya, blog ini bercerita tentang segala pengalaman dan wawasan ilmu pengetahuan terhadap pembaca yang tentu tidak ada omong kosongnya, bacalah dan anda akan mendapatkan kebahagiaan hidup
Rabu, 08 Juni 2011
Selasa, 07 Juni 2011
mengenang peristiwa kapal tujuh
Suasana kota Surabaya mencekam pada hari itu, 27 Januari 1933. Para
pelaut Indonesia dan Belanda sedang menggelar pemogokan umum. Mereka
menolak keputusan penurunan gaji, yang diputuskan oleh De Jonge
(1931-1936), gubernur Jenderal Hindia-Belanda saat itu.
pelaut Indonesia dan Belanda sedang menggelar pemogokan umum. Mereka
menolak keputusan penurunan gaji, yang diputuskan oleh De Jonge
(1931-1936), gubernur Jenderal Hindia-Belanda saat itu.
Ketika pemogokan itu meletus, para perwira pelaut Belanda berusaha
mengisolasi kejadian ini. Segala pemberitaan mengenai pemogokan
dilarang, dan orang-orang dilarang membicarakan kejadian itu.
mengisolasi kejadian ini. Segala pemberitaan mengenai pemogokan
dilarang, dan orang-orang dilarang membicarakan kejadian itu.
Meskipun begitu, berita mengenai pemogokan ini tetap terdengar di
telinga pelaut di luar Surabaya, termasuk di kapal tujuh (seven
provincien), yang saat itu sedang berlabuh di Sabang, Aceh. Adalah Maud
Boshart, seorang korporal Belanda, yang mendengar kejadian itu di ruang
radio. Dia memang dikenal berpikiran radikal, dan menolak haluan
mayoritas teman-temannya yang sangat moderat.
telinga pelaut di luar Surabaya, termasuk di kapal tujuh (seven
provincien), yang saat itu sedang berlabuh di Sabang, Aceh. Adalah Maud
Boshart, seorang korporal Belanda, yang mendengar kejadian itu di ruang
radio. Dia memang dikenal berpikiran radikal, dan menolak haluan
mayoritas teman-temannya yang sangat moderat.
Sehari sesudah mendengar kabar itu, tanggal 28 Januari 1933, menjelang
hari lebaran Islam, para pelaut Indonesia dan Belanda menggelar rapat
tertutup. “Rapat itu pura-pura membahas rencana penyambutan lebaran,
tetapi sebetulnya mempersiapkan pemogokan,” tulis Harian Ra’jat,
koran Partai Komunis Indonesia (PKI), saat mengenang kejadian itu.
hari lebaran Islam, para pelaut Indonesia dan Belanda menggelar rapat
tertutup. “Rapat itu pura-pura membahas rencana penyambutan lebaran,
tetapi sebetulnya mempersiapkan pemogokan,” tulis Harian Ra’jat,
koran Partai Komunis Indonesia (PKI), saat mengenang kejadian itu.
Tetapi, perwira-perwira Belanda sempat mencurigai rapat itu, karena
pelaut Belanda yang dipimpin Boshart juga ikut rapat. Beruntung, sebuah
kebakaran besar terjadi di pusat kota, sehingga Polisi Belanda
dikerahkan ke sana. Rapat pun dilanjutkan dengan pidato-pidato.
Pertemuan itu ditutup dengan menyanyikan lagu “Internasionale,”
lagu gerakan buruh internasional yang terkenal itu.
pelaut Belanda yang dipimpin Boshart juga ikut rapat. Beruntung, sebuah
kebakaran besar terjadi di pusat kota, sehingga Polisi Belanda
dikerahkan ke sana. Rapat pun dilanjutkan dengan pidato-pidato.
Pertemuan itu ditutup dengan menyanyikan lagu “Internasionale,”
lagu gerakan buruh internasional yang terkenal itu.
Pada tanggal 30 Januari 1933, berita mengenai pemogokan pelaut di
Surabaya kembali terdengar oleh Boshart. Merespon gerakan pemogokan itu,
para pelaut di kapal tujuh kembali melakukan rapat. Diantara yang ikut
rapat adalah Rumambi, Paraja, Hendrik dan Gosal.
Surabaya kembali terdengar oleh Boshart. Merespon gerakan pemogokan itu,
para pelaut di kapal tujuh kembali melakukan rapat. Diantara yang ikut
rapat adalah Rumambi, Paraja, Hendrik dan Gosal.
Mengetahui bahwa kabar ini sudah tersiar, komandan kapal dan para ABK
melakukan briefing. “Saya harap jangan sampai kalian meniru contoh
yang jelek untuk mengadakan pemogokan juga dikapal ini dengan alasan
bahwa kalian tidak dapat menyetujui penurunan gaji,” kata Eikenboom,
komandan kapal tujuh.
melakukan briefing. “Saya harap jangan sampai kalian meniru contoh
yang jelek untuk mengadakan pemogokan juga dikapal ini dengan alasan
bahwa kalian tidak dapat menyetujui penurunan gaji,” kata Eikenboom,
komandan kapal tujuh.
Pidato bernada ancaman itu tidak menurunkan semangat perlawanan para
ABK. Paraja dan Rumambi, dua ABK berdarah Indonesia, memimpin sebuah
gerakan untuk pemberontakan di atas kapal tujuh itu. Diputuskan pula
bahwa mereka akan membawa kapal perang milik Belanda ini ke Surabaya.
ABK. Paraja dan Rumambi, dua ABK berdarah Indonesia, memimpin sebuah
gerakan untuk pemberontakan di atas kapal tujuh itu. Diputuskan pula
bahwa mereka akan membawa kapal perang milik Belanda ini ke Surabaya.
Paraja dan Rumambi mendorong sebuah pertemuan di darat. Hadir dalam
pertemuan itu, antara lain Gosal, Kawilarang, Kaunang, Posuma, Hendrik,
Sudiana, Supusepa, Luhulima, Abas, Tuanakotta, Pelupessy, Delakrus,
Suparjan, Achmad, Tuhumena, J Parinusa dan Manuputi. Hadir pula Maud
Boshart dan pelaut-pelaut Belanda yang setuju dengan rencana
pemberontakan.
pertemuan itu, antara lain Gosal, Kawilarang, Kaunang, Posuma, Hendrik,
Sudiana, Supusepa, Luhulima, Abas, Tuanakotta, Pelupessy, Delakrus,
Suparjan, Achmad, Tuhumena, J Parinusa dan Manuputi. Hadir pula Maud
Boshart dan pelaut-pelaut Belanda yang setuju dengan rencana
pemberontakan.
Begitulah, pada 4 Februari 1933, sekitar pukul 22.00 malam, peluit
panjang berbunyi untuk menandai dimulainya pemberontakan. Para awak
kapal melakukan pengambil-alihan kendali kapal dari tangan Belanda. Awak
kapal keturunan Indonesia dipimpin oleh Paraja dan Gosal, sedangkan awak
kapal Belanda dipimpin oleh Boshart dan Dooyeweerd.
panjang berbunyi untuk menandai dimulainya pemberontakan. Para awak
kapal melakukan pengambil-alihan kendali kapal dari tangan Belanda. Awak
kapal keturunan Indonesia dipimpin oleh Paraja dan Gosal, sedangkan awak
kapal Belanda dipimpin oleh Boshart dan Dooyeweerd.
Dua perwira Belanda yang memimpin kapal, Vels dan Bolhouwer, berhasil
meloloskan diri dari pemberontak setelah menjebol jendela. Mereka
melompat ke laut dan berenang hingga ke daratan.
meloloskan diri dari pemberontak setelah menjebol jendela. Mereka
melompat ke laut dan berenang hingga ke daratan.
“Kapal Tujuh yang usang itu datang dari Oleh-Le ke selat sunda
dipimpin oleh seorang kelasi bangsa Indonesia yang berkulit hitam itu
dan di dorong maju oleh mesin-mesin yang dilayani oleh seorang corporal
masinis bangsa kulit putih,” tulis Harian Ra’jat mengenai
peristiwa itu.
dipimpin oleh seorang kelasi bangsa Indonesia yang berkulit hitam itu
dan di dorong maju oleh mesin-mesin yang dilayani oleh seorang corporal
masinis bangsa kulit putih,” tulis Harian Ra’jat mengenai
peristiwa itu.
Pada tanggal 5 Februari, pimpinan pemberontakan mengeluarkan siaran pers
dalam tiga bahasa, yaitu Belanda, Inggris, dan Indonesia, yang
memberitahukan bahwa Kapal perang “Zeven Provincien” sudah
diambil-alih oleh mereka dan sedang bergerak ke Surabaya. “Maksud
kami adalah memprotes pemotongan gaji yang tidak adil dan menuntut agar
rekan-rekan kami yang ditahan pada waktu berselang segera
dibebaskan!” tulis pemberontak dalam siaran persnya.
dalam tiga bahasa, yaitu Belanda, Inggris, dan Indonesia, yang
memberitahukan bahwa Kapal perang “Zeven Provincien” sudah
diambil-alih oleh mereka dan sedang bergerak ke Surabaya. “Maksud
kami adalah memprotes pemotongan gaji yang tidak adil dan menuntut agar
rekan-rekan kami yang ditahan pada waktu berselang segera
dibebaskan!” tulis pemberontak dalam siaran persnya.
Mendengar berita pemberontakan ini, belanda dibuat kalang-kabut. Mereka
pun mengirimkan sebuah kapal untuk mengejar, yaitu kapal Aldebaren.
Begitu kapal Aldebaren mendekat, Kawilarang, yang bertugas di
persenjataan, memberikan sinyal akan menembak jika kapal tersebut berani
mendekat. Kapal Aldebaren pun mundur dan berhenti mengejar.
pun mengirimkan sebuah kapal untuk mengejar, yaitu kapal Aldebaren.
Begitu kapal Aldebaren mendekat, Kawilarang, yang bertugas di
persenjataan, memberikan sinyal akan menembak jika kapal tersebut berani
mendekat. Kapal Aldebaren pun mundur dan berhenti mengejar.
Belanda tidak berhenti. Mereka kembali mengirim kapal penyebar ranjau,
Goudenleeuw, untuk melakukan pengejaran. Tetapi kapal ini tidak berani
untuk terlalu mendekat. Penyebabnya, kedua kapal pengejar ini memiliki
meriam lebih kecil dan kalah persenjataan dibanding kapal tujuh.
Goudenleeuw, untuk melakukan pengejaran. Tetapi kapal ini tidak berani
untuk terlalu mendekat. Penyebabnya, kedua kapal pengejar ini memiliki
meriam lebih kecil dan kalah persenjataan dibanding kapal tujuh.
Kapal tujuh terus berlayar. Tanggal 5 Febuari kapal sudah berada di
pulau Berueh, lalu tanggal 6 febuari berada di pulau Simeuleu, kemudian
sampai di Sinabang pada tanggal 7 februari, dan akhirnya tanggal 10
Februari sampai di selat Sunda.
pulau Berueh, lalu tanggal 6 febuari berada di pulau Simeuleu, kemudian
sampai di Sinabang pada tanggal 7 februari, dan akhirnya tanggal 10
Februari sampai di selat Sunda.
Akhir Pemberontakan
Begitu memasuki selat sunda, pihak Belanda mengirimkan kapal perang
“Java”, dan dikawal dua kapal torpedo: Piet Hien dan Evetsen.
Selain itu, untuk benar-benar melumpukan pemberontak, pihak Belanda juga
mengerahkan kapal perang yang baru tiba, yaitu Gouden Leeuw, dan sebuah
pesawat pembom Dornier.
“Java”, dan dikawal dua kapal torpedo: Piet Hien dan Evetsen.
Selain itu, untuk benar-benar melumpukan pemberontak, pihak Belanda juga
mengerahkan kapal perang yang baru tiba, yaitu Gouden Leeuw, dan sebuah
pesawat pembom Dornier.
Van Dulm, yang memimpin kapal perang Java, mengirimkan telegram
ultimatum kepada kapal tujuh untuk segera menyerah. Tetapi Martin
Paradja dan kawan-kawan menolak untuk menyerah. “Kami tidak mau di
ganggu dan akan meneruskan pelayaran menuju Surabaya,” demikian
balasan kapal tujuh kepada ultimatum Van Dulm.
ultimatum kepada kapal tujuh untuk segera menyerah. Tetapi Martin
Paradja dan kawan-kawan menolak untuk menyerah. “Kami tidak mau di
ganggu dan akan meneruskan pelayaran menuju Surabaya,” demikian
balasan kapal tujuh kepada ultimatum Van Dulm.
Sesaat kemudian, pesawat dornier mulai berputar-putat di atas kapal
tujuh, lalu mengeluarkan ancaman. Tetapi, Martin Paraja dan kawan-kawan
kembali menyatakan menolak untuk menyerah.
tujuh, lalu mengeluarkan ancaman. Tetapi, Martin Paraja dan kawan-kawan
kembali menyatakan menolak untuk menyerah.
Pada hari Jumat, 10 Februari 1933, tepat Jam 09.18 pagi, bom pertama
berukuran 50 kg mulai dijatuhkan, tetapi belum mengenai sasaran. Bom
kedua dijatuhkan dan tepat mengenai geladak kapal. Pemberontak kapal
tujuh memberikan perlawanan. Beberapa orang mengalami luka-luka. “J
Pelupessy mendapat luka, sedangkan Sugiono kehilangan satu biji
matanya,” tulis Maud Boshart dalam memoarnya untuk mengenang
kejadian tersebut.
berukuran 50 kg mulai dijatuhkan, tetapi belum mengenai sasaran. Bom
kedua dijatuhkan dan tepat mengenai geladak kapal. Pemberontak kapal
tujuh memberikan perlawanan. Beberapa orang mengalami luka-luka. “J
Pelupessy mendapat luka, sedangkan Sugiono kehilangan satu biji
matanya,” tulis Maud Boshart dalam memoarnya untuk mengenang
kejadian tersebut.
Kapal tersebut ternyata tidak dilengkapi dengan meriam penangkis
serangan udara. Martin Paradja, yang memimpin pemberontakan ini, tewas
saat pemboman itu. 20 awak Indonesia dan 3 awak belanda juga dinyatakan
tewas akibat serangan itu. Diantara yang gugur adalah Sagino, Amir, Said
Bini, Miskam, Gosal, Rumambi, Koliot, Kasueng, Ketutu Kramas, Mohammad
Basir, dan Simon.
serangan udara. Martin Paradja, yang memimpin pemberontakan ini, tewas
saat pemboman itu. 20 awak Indonesia dan 3 awak belanda juga dinyatakan
tewas akibat serangan itu. Diantara yang gugur adalah Sagino, Amir, Said
Bini, Miskam, Gosal, Rumambi, Koliot, Kasueng, Ketutu Kramas, Mohammad
Basir, dan Simon.
Sementara itu, 545 ABK bangsa Indonesia dan 81 ABK bangsa Belanda
ditahan akibat pemberontakan itu. Kawilarang, karena dianggap memimpin
pemberontakan, dijatuhi hukuman 18 tahun penjara. Begitu juga dengan
Maud Boshart, yang dikenai hukuman 16 tahun penjara. Sedangkan yang
lainnya dijatuhi hukuman 6 tahun dan 4 tahun.
ditahan akibat pemberontakan itu. Kawilarang, karena dianggap memimpin
pemberontakan, dijatuhi hukuman 18 tahun penjara. Begitu juga dengan
Maud Boshart, yang dikenai hukuman 16 tahun penjara. Sedangkan yang
lainnya dijatuhi hukuman 6 tahun dan 4 tahun.
Para pemberontak kapal tujuh (seven provincien) akhirnya di tempatkan di
pulau Onrust, kamp tawanan paling mengerikan saat itu. Sebagian besar
pemberontak kapal tujuh meninggal dan dimakamkan di pulau itu.
pulau Onrust, kamp tawanan paling mengerikan saat itu. Sebagian besar
pemberontak kapal tujuh meninggal dan dimakamkan di pulau itu.
Pengaruh pemberontakan ini
Kejadian di kapal tujuh sangat mengagetkan kaum kolonial. Koran
“Soeara Oemoem’, yang berkantor di Surabaya, dibredel pemerintah
kolonial. Salah seorang wartawannya, Raden Tahir Tjindarboemi,
diputuskan bersalah karena telah menyiarkan kabar pemberontakan di kapal
tujuh.
“Soeara Oemoem’, yang berkantor di Surabaya, dibredel pemerintah
kolonial. Salah seorang wartawannya, Raden Tahir Tjindarboemi,
diputuskan bersalah karena telah menyiarkan kabar pemberontakan di kapal
tujuh.
Pada saat itu, pers-pers asing sudah ramai mengabarkan kejadian ini.
Mereka menyamakan kejadian di kapal tujuh (seven provincien) dengan
pemberontakan di kapal Potemkim II–dalam sejarah revolusi Rusia.
Mereka menyamakan kejadian di kapal tujuh (seven provincien) dengan
pemberontakan di kapal Potemkim II–dalam sejarah revolusi Rusia.
Akhirnya, kejadian ini terdengar juga di negeri Belanda dan menjadi
pembicaraan di sana. Salah satu organisasi pergerakan di Belanda, yaitu
perhimpunan Indonesia, mengeluarkan manifesto yang mendukung
pemberontakan itu.
pembicaraan di sana. Salah satu organisasi pergerakan di Belanda, yaitu
perhimpunan Indonesia, mengeluarkan manifesto yang mendukung
pemberontakan itu.
Jauh sebelum pemberontakan di kapal tujuh, Gubernur Jendral De Jonge
memberlakukan hukum yang sangat keras bagi pergerakan Indonesia. Dia
memberlakukan pengawasan ketat terhadap rapat-rapat umum, melakukan
penangkapan dan pemenjaraan terhadap sejumlah aktivis, hingga melaran
kegiatan pers.
memberlakukan hukum yang sangat keras bagi pergerakan Indonesia. Dia
memberlakukan pengawasan ketat terhadap rapat-rapat umum, melakukan
penangkapan dan pemenjaraan terhadap sejumlah aktivis, hingga melaran
kegiatan pers.
Dengan kejadian itu, pemerintah Belanda seperti ditampar mukanya. Sehari
setelah kejadian itu, De Jonge menggelar pawai kesetiaan di depan
kantornya, di Batavia. Ia seolah berusaha menegaskan bahwa kekuasaan
kolonial tidak tergoyahkan oleh kejadian itu.
setelah kejadian itu, De Jonge menggelar pawai kesetiaan di depan
kantornya, di Batavia. Ia seolah berusaha menegaskan bahwa kekuasaan
kolonial tidak tergoyahkan oleh kejadian itu.
Apa yang menarik kita lihat hubungannya dalam pemberontakan ini adalah
keterlibatan organisasi pergerakan, khususnya PNI dan golongan komunis
yang dituding menjadi provokator pemberontakan ini.
keterlibatan organisasi pergerakan, khususnya PNI dan golongan komunis
yang dituding menjadi provokator pemberontakan ini.
Jaksa Agung Hindia-Belanda saat itu, Verheyen, dalam laporannya kepada
Gubernur Jenderal, telah menuding PNI baru cabang Surabaya punya andil
dalam pemberontakan itu. “PNI baru adalah yang paling berbahaya di
antara partai-partai nasionalis karena pimpinanya yang
revolusioner,” katanya.
Gubernur Jenderal, telah menuding PNI baru cabang Surabaya punya andil
dalam pemberontakan itu. “PNI baru adalah yang paling berbahaya di
antara partai-partai nasionalis karena pimpinanya yang
revolusioner,” katanya.
Sementara versi lainnya, yang juga sangat penting untuk diketahui, bahwa
sebagian besar pelaut di kapal tujuh adalah anggota serikat buruh
“Inlandsche Marine Bond (IMB)”, yang banyak terpengaruh
nasionalisme dan marxisme. Majalah IMB yang bernama “Sinar
Lautan”, banyak menulis soal marxisme dan nasionalisme.
sebagian besar pelaut di kapal tujuh adalah anggota serikat buruh
“Inlandsche Marine Bond (IMB)”, yang banyak terpengaruh
nasionalisme dan marxisme. Majalah IMB yang bernama “Sinar
Lautan”, banyak menulis soal marxisme dan nasionalisme.
Bagaimanapun, pemberontakan kapal tujuh adalah pemberontakan
anti-kolonial pertama di kalangan para pelaut Indonesia. Andre Therik,
seorang yang terlibat dalam pemberontakan itu, pernah mengatakan:
“Penurunan gaji hanya momentum bagi meletusnya pemberontakan itu.
Para pelaut Indonesia yang sudah bermimpi akan kemerdekaan Indonesia
yang mendorong kami memberontak.”
anti-kolonial pertama di kalangan para pelaut Indonesia. Andre Therik,
seorang yang terlibat dalam pemberontakan itu, pernah mengatakan:
“Penurunan gaji hanya momentum bagi meletusnya pemberontakan itu.
Para pelaut Indonesia yang sudah bermimpi akan kemerdekaan Indonesia
yang mendorong kami memberontak.”
masa2 di smp yg begitu indah !!!!
kali ini gw pengen cerita ttng masa2 SMP gw yang kan jadi kenangan terindah dalam hidup gw, karena gw bisa ketemu temen2 terbaik gw yg gokil, kocak, sombong, belagu dll, hahaha, masa2 smp adalah masa2 dimana gw bisa menemukan jati diri gw sesungguhnya, gw bisa memacu berbagai prestasi gw, pengalaman, dan cinta sesungguhnya yang ada di benak gw.
cinta, lagi2 inilah yg akan gw ceritain, masa2 smp adalah dimana gw bisa belajar dan memprakrikan cinta sesungguhnya, dimana cara gw mencintai dan menghargai cinta dapat gw praktikan, apalagi saat gw dikhianati sama si A.
yah, dia bikin gw sakit hati, namun, dibalik itu gw dapat belajar apakah kesalahan diri gw sendiri, asal tau aja semenjak gw kejar dia, gw insaf karena cewek yg dilihat dari luar belum tentu bagus didalam.
skrang, cinta gw dapat gw temukan kembali, karena si ilvia khoirunnisa, dialah satu2nya yg bikin hidup gw bermakna, saat2 6 bulan terakhir di 92 adalah masa2 yg indah bersamanya, saat dimana gw romantis sama dia, mojok di taman, sampe kehujanan abis mojok disana.
mungkin di 92 gw gada apa2nya, tp inget, ketika gw kembali ke 92 untuk reunian, gw bakal dateng ber jas, kacamata item, mobil sedan item mulus, sepatu mengkilat, wahahahaha, pede amet gw, yoeweslah, cuma itu doang yg bisa gw ceritain, dadaaaah,
cinta, lagi2 inilah yg akan gw ceritain, masa2 smp adalah dimana gw bisa belajar dan memprakrikan cinta sesungguhnya, dimana cara gw mencintai dan menghargai cinta dapat gw praktikan, apalagi saat gw dikhianati sama si A.
yah, dia bikin gw sakit hati, namun, dibalik itu gw dapat belajar apakah kesalahan diri gw sendiri, asal tau aja semenjak gw kejar dia, gw insaf karena cewek yg dilihat dari luar belum tentu bagus didalam.
skrang, cinta gw dapat gw temukan kembali, karena si ilvia khoirunnisa, dialah satu2nya yg bikin hidup gw bermakna, saat2 6 bulan terakhir di 92 adalah masa2 yg indah bersamanya, saat dimana gw romantis sama dia, mojok di taman, sampe kehujanan abis mojok disana.
mungkin di 92 gw gada apa2nya, tp inget, ketika gw kembali ke 92 untuk reunian, gw bakal dateng ber jas, kacamata item, mobil sedan item mulus, sepatu mengkilat, wahahahaha, pede amet gw, yoeweslah, cuma itu doang yg bisa gw ceritain, dadaaaah,
Langganan:
Komentar (Atom)